Jejak Potensi - Kalau orang lain melihatku di kantor atau di kampus, mungkin mereka bakal mikir hidupku ini lagi di fase peak performance. Dengan kemeja yang rapi, senyum ramah yang selalu siap menyapa siapa saja, aku sering dicap sebagai representasi anak muda yang produktif dan punya hustle mentality yang keren karena bisa juggling antara kuliah tingkat akhir dan kerja. Dari luar, visualku kelihatan tenang, well-prepared, dan punya kontrol penuh atas masa depan.
Namun, di dalam kepalaku, situasinya sama sekali berbeda. Kepalaku seperti tidak pernah memberi ruang untuk benar-benar istirahat. Sebuah mesin raksasa yang terus berputar tanpa henti, memproduksi ribuan skenario buruk, ketakutan, dan kemungkinan kegagalan yang tak kasat mata bagi orang lain. Aku sering terlihat baik-baik saja, padahal pikiranku sedang kacau. Saat aku sedang mengetik laporan bulanan atau mendengarkan kuliah lewat earphone, di dalam otakku sedang terjadi perdebatan sengit tentang masa depanku yang buram.
Aku merasa terjebak di titik stagnan ini. Menjadi mahasiswa sekaligus karyawan membuatku hidup dalam dua dunia, tetapi tidak sepenuhnya memiliki keduanya. Di kantor, aku merasa tidak berkembang karena tenagaku habis untuk tugas-tugas monoton. Di kampus, fokusku terbelah. Di atas ego muda ini, ada sebuah impian yang menyala: aku ingin membangun usaha sendiri. Aku ingin menciptakan sesuatu yang lahir dari ideku, bukan terus-menerus menjadi sekrup kecil yang menggerakkan roda bisnis orang lain.
Setiap malam, sebelum memejamkan mata, dilema itu selalu datang menghantam. Sebuah pergulatan batin yang melelahkan antara memilih keluar untuk fokus merintis usaha, atau bertahan sebagai karyawan. Di satu sisi, jiwaku menjerit meminta kebebasan untuk berinovasi. Namun, di sisi lain, kenyataan hidup mencengkeram leherku dengan erat. Sebab, ketika aku nekat keluar untuk berbisnis, tantangan finansial langsung berdiri tegak di depanku.
Gaya hidup dan tuntutan ekonomi saat ini tidak memberikan ruang untuk kesalahan. Biaya kuliah semester akhir yang kian mahal, kebutuhan riset, cicilan, hingga dana darurat yang belum seberapa, semuanya bergantung pada gaji bulanan ini. Modal untuk memulai usaha pun masih jauh dari kata cukup. Menjadi idealis dengan jargon "fokus bisnis dan tinggalkan zona nyaman" adalah kemewahan yang tidak bisa kubeli. Ketakutan akan kegagalan bisnis yang berujung pada kebangkrutan finansial jauh lebih mengerikan daripada kelelahan membagi waktu saat ini. Aku memikirkan sesuatu terlalu jauh sampai lupa melihat kenyataannya. Pikiranku melompat ke skenario ekstrem di mana usahaku gagal, uangku habis, kuliahku terbengkalai, dan aku menjadi pengangguran tanpa masa depan.
Akibat kecemasan itu, setiap detail kecil terasa begitu penting di dalam pikiranku. Algoritma pasar yang berubah, tren bisnis yang bergeser setiap minggu, hingga kritik kecil dari atasan di kantor terasa seperti sinyal bahwa aku tidak cukup kompeten untuk bertahan hidup. Bahkan saat semuanya terlihat baik-baik saja saat IPK-ku aman dan performa kerjaku stabil pikiranku tetap merasa cemas. Ketenangan bagiku terasa seperti jebakan, aku selalu merasa bahwa jika aku beristirahat sejenak, aku akan tertinggal jauh oleh dunia yang bergerak terlalu cepat.
Ada rasa lelah yang tidak terlihat, tapi terus menguras tenagaku perlahan. Ini bukan lelah fisik yang bisa disembuhkan dengan tidur delapan jam atau scrolling media sosial di akhir pekan. Ini adalah kelelahan batin akibat memikul ekspektasi masa depan yang terlalu berat sendirian. Sampai akhirnya aku sadar, yang paling melelahkan bukan tumpukan tugas kantor atau revisi skripsi, tapi pikiranku yang tidak pernah berhenti meragukan kemampuanku sendiri.
Sore itu, di sudut kafe dekat kampus, aku menatap layar laptop. Di sebelah kiri ada tab berisi draf rencana bisnis (business plan) yang kuimpikan, dan di sebelah kanan ada draf laporan pekerjaan kantor yang harus dikirim sebelum jam lima. Aku merasa begitu kerdil. Di media sosial, aku melihat orang-orang seusiaku sukses membangun start-up atau mendapat pendanaan, sementara aku masih terjebak mencuri-curi waktu di antara jam kerja dan jam kuliah.
Namun, di tengah bisingnya isi kepala, sebuah kesadaran baru perlahan menyelinap. Mengapa aku begitu keras pada diriku sendiri, menuntut segala hal harus terwujud sempurna dalam satu waktu?
Aku mulai merenung. Mungkin, tidak semua keterlambatan berarti kehilangan. Hanya karena aku belum bisa meluncurkan usahaku hari ini, bukan berarti impian itu mati. Bertahan di pekerjaan ini untuk mengumpulkan modal dan pengalaman bukanlah sebuah kegagalan atau bentuk kepengecutan. Itu adalah strategi. Ini adalah proses mengumpulkan fondasi agar ketika aku melangkah nanti, aku tidak langsung jatuh terhempas.
Pelan-pelan aku mencoba menerima bahwa tidak semua hal bisa aku kontrol. Aku tidak bisa memaksa usahaku langsung sukses dalam semalam, dan aku tidak bisa menghilangkan seluruh risiko finansial di masa depan. Yang bisa kukontrol hanyalah bagaimana aku memanfaatkan waktu yang kupunya hari ini, tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalku.
Aku menarik napas dalam-dalam, menutup belasan tab peramban yang membuat otakku penuh, lalu mengembuskannya perlahan. Dan aku ingin percaya bahwa aku juga pantas merasa damai. Menjadi ambisius bukan berarti harus menyiksa diri dengan kecemasan tiada akhir.
Aku mulai memahami bahwa tenang juga bisa dipelajari. Bahwa berjalan pelan namun konsisten menuju impian membangun usaha, jauh lebih baik daripada berlari tergesa-gesa lalu hancur di tengah jalan. Langkahku malam itu terasa sedikit lebih ringan, siap menghadapi hari esok dengan kepala yang tidak lagi riuh oleh ketakutan, melainkan oleh harapan yang terukur.

Posting Komentar
Posting Komentar