![]() |
| Wismilak dan Cerita di Balik Laba Rp284 Miliar: Kretek Lokal Terus Menyala di Tengah Tantangan Industri |
Jejak Potensi — Di tengah derasnya persaingan industri rokok nasional, nama Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) terus menunjukkan nyala api yang tak padam. Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi perusahaan asal Surabaya ini. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, Wismilak mencatat penjualan bersih sebesar Rp4,6 triliun, meningkat tajam 34,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, di balik angka-angka besar itu, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana industri kretek produk budaya khas Indonesia masih mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah perubahan zaman dan tekanan regulasi.
Kretek Mesin Jadi Tulang Punggung
Dari berbagai lini produk, sigaret kretek mesin (SKM) menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan mencapai Rp2,88 triliun. Posisi berikutnya diisi oleh produk filter Rp1,04 triliun, sigaret kretek tangan (SKT) Rp645,92 miliar, serta cerutu dan produk lainnya senilai Rp8,19 miliar.
Sementara itu, pasar ekspor juga mulai menunjukkan geliat dengan kontribusi Rp20,1 miliar. Angka ini mungkin belum besar, tapi menunjukkan arah positif: kretek lokal Indonesia mulai menembus pasar global yang selama ini lebih mengenal rokok putih.
“Pasar internasional kini mulai terbuka terhadap produk berbasis tembakau khas. Jika diiringi strategi branding dan diversifikasi produk yang tepat, industri kretek bisa menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi,” ujar Arif Sutanto, analis industri konsumsi dari Indef, ketika dihubungi Jejak Potensi, Jumat (1/11/2025).
Kinerja Solid di Tengah Biaya Produksi Tinggi
Tak bisa dimungkiri, pertumbuhan penjualan itu juga diikuti oleh kenaikan biaya produksi. Beban pokok penjualan WIIM naik menjadi Rp3,6 triliun, dengan komponen terbesar berasal dari pemakaian pita cukai Rp2,06 triliun dan bahan baku Rp1,33 triliun.
Meski tekanan biaya meningkat, Wismilak tetap mampu menjaga keseimbangan dan efisiensi operasional. Hasilnya, perusahaan berhasil menorehkan laba bersih Rp284,96 miliar, naik 37,32 persen secara tahunan, dengan laba per saham meningkat menjadi Rp137,28.
Kinerja ini menegaskan bahwa efisiensi dan inovasi produksi menjadi kunci bertahan di sektor yang padat regulasi seperti industri rokok.
Industri Rokok Nasional: Bertahan di Tengah Awan Regulasi
Dalam beberapa tahun terakhir, industri hasil tembakau Indonesia menghadapi tekanan berat: kenaikan tarif cukai, pembatasan iklan, dan pergeseran gaya hidup masyarakat menuju pola hidup sehat. Namun, di sisi lain, industri ini tetap menjadi penyumbang besar bagi penerimaan negara serta lapangan kerja bagi jutaan orang.
Menurut Dr. Lestari Anindya, ekonom Universitas Airlangga, sektor hasil tembakau kini memasuki masa transisi strategis.
“Industri rokok nasional tidak bisa lagi hanya bergantung pada volume produksi. Kuncinya ada pada diferensiasi produk, digitalisasi distribusi, dan ekspansi ke pasar ekspor. Perusahaan yang mampu membaca arah ini seperti Wismilak punya peluang besar untuk tetap tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Fondasi Keuangan Tetap Kokoh
Per akhir September 2025, Wismilak mencatat total aset Rp3,35 triliun, liabilitas Rp1,29 triliun, dan ekuitas Rp2,06 triliun. Struktur keuangan yang sehat ini menjadi fondasi kuat untuk ekspansi di masa mendatang, terutama menghadapi tantangan kenaikan cukai yang hampir rutin terjadi setiap tahun.
Bagi investor, kondisi ini juga memberi sinyal positif. Aset yang stabil, rasio utang terkendali, dan laba bersih yang meningkat menandakan perusahaan dalam posisi aman untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.
Memandang ke Depan
Kinerja WIIM hingga kuartal III/2025 memperlihatkan satu hal penting: industri rokok Indonesia masih memiliki daya tahan luar biasa di tengah tekanan global.
Keberhasilan Wismilak semata memang dari hasil penjualan, tetapi juga tak kalah pentingnya refleksi dari kemampuan beradaptasi menggabungkan tradisi kretek dengan strategi bisnis modern.
Dalam lanskap bisnis yang terus berubah, Wismilak menunjukkan bahwa api kretek lokal belum padam, ia hanya menyesuaikan arah nyalanya.
Penulis: Ana Noviani
Editor: Kukuh
Sumber: Bisnis.com

Posting Komentar
Posting Komentar