Jejak Potensi — Siapa sangka, sepotong logam kecil dengan lubang di tengah bisa membawa kita menelusuri jejak panjang sejarah Nusantara. Koin Nederlandsch-Indie 1 Cent, yang pernah beredar di masa penjajahan Belanda, bukan hanya alat tukar, melainkan juga saksi perubahan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia.
Dari Zaman Kolonial ke Masa Transisi
Kisah koin Nederlandsch-Indie atau Hindia Belanda dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Koin 1 cent versi berlubang pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1857, dan terus digunakan hingga menjelang masa pendudukan Jepang pada awal 1940-an.
Pada masa itu, Belanda mencetak koin untuk wilayah jajahannya di Asia Tenggara dengan desain yang khas — berlubang di tengah, agar mudah dibedakan dari uang logam lain dan praktis dibawa. Lubang ini juga membuat koin bisa dirangkai dengan tali atau rotan kecil, sesuai kebiasaan masyarakat setempat yang sering menyimpan uang dengan cara tradisional.
Perjalanan Desain: Dari Tembaga hingga Perunggu
Selama lebih dari tujuh dekade, desain koin 1 cent mengalami beberapa perubahan. Pada edisi awal (sekitar 1857–1900), koin dibuat dari tembaga murni dengan tulisan “NEDERLANDSCH-INDIE” dan lambang mahkota kerajaan Belanda di satu sisi. Setelah tahun 1900, bahan koin mulai berubah menjadi perunggu (bronze) agar lebih tahan lama dan efisien dalam produksi massal.
Pada seri 1936 hingga 1945, desain koin 1 cent semakin unik dengan ornamen sulur berputar di sekeliling lubang tengah. Motif ini menjadi ciri khas koin Hindia Belanda menjelang akhir masa kolonial. Desainnya dianggap memadukan nuansa Eropa dengan unsur tropis Asia, menggambarkan perpaduan budaya antara penguasa dan wilayah jajahan.
Dicetak di Negeri Orang, Beredar di Nusantara
Menariknya, beberapa koin 1 cent Hindia Belanda tidak dicetak di Belanda, melainkan di luar negeri. Saat Perang Dunia II berkecamuk dan Belanda diduduki oleh Jerman, produksi uang untuk Hindia Belanda dialihkan ke Philadelphia Mint, Amerika Serikat. Itulah sebabnya, pada beberapa koin tahun 1943–1945 terdapat tanda huruf “P” kecil sebagai simbol tempat pencetakannya.
Sayangnya, sebagian besar koin seri terakhir itu tidak sempat beredar luas di Indonesia. Sebab, pada 17 Agustus 1945, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Maka, koin tersebut menjadi saksi bisu dari perubahan besar dari masa penjajahan menuju masa merdeka.
Nilai Koleksi yang Tak Ternilai
Kini, koin Nederlandsch-Indie 1 Cent menjadi incaran para kolektor uang kuno (numismatik). Meski nilai pasarnya berkisar antara Rp10.000 hingga Rp150.000, tergantung kondisi dan tahun terbit, nilai historisnya jauh lebih tinggi. Bagi para kolektor, setiap goresan dan lekukan di permukaan koin adalah bagian dari cerita panjang perjalanan bangsa.
“Benda kecil seperti ini mengajarkan kita bahwa sejarah tidak selalu berbentuk monumen besar. Terkadang, ia hadir dalam bentuk koin kecil yang pernah berpindah dari satu tangan ke tangan lain di pasar-pasar tempo dulu,” ujar Rizky Wibisono, kolektor uang kuno di Surabaya, saat ditemui Jejak Potensi (7/11).
Cermin dari Masa Lalu
Lebih dari sekadar alat tukar, koin berlubang ini mencerminkan identitas sosial dan budaya masyarakat Hindia Belanda. Lubang di tengahnya menggambarkan filosofi keseimbangan hidup, sementara desainnya menjadi bukti bagaimana pengaruh Eropa berpadu dengan gaya Asia. Bisa dibilang, koin ini adalah potret mini kehidupan kolonial penuh paradoks antara kemewahan dan kesederhanaan.
Lebih dari sekadar alat tukar, koin berlubang ini mencerminkan identitas sosial dan budaya masyarakat Hindia Belanda. Lubang di tengahnya menggambarkan filosofi keseimbangan hidup, sementara desainnya menjadi bukti bagaimana pengaruh Eropa berpadu dengan gaya Asia. Bisa dibilang, koin ini adalah potret mini kehidupan kolonial penuh paradoks antara kemewahan dan kesederhanaan.
Kini, koin Nederlandsch-Indie 1 Cent tak lagi berfungsi untuk bertransaksi, tapi masih “berbicara” bagi mereka yang mau mendengar. Ia bercerita tentang masa lalu, tentang perdagangan, penjajahan, dan perjalanan menuju kemerdekaan. Setiap kali kita melihatnya, seolah ada pesan halus dari masa silam: bahwa setiap benda kecil menyimpan kisah besar tentang siapa kita hari ini.
Sumber dan Referensi
Krause, Chester L. & Mishler, Clifford. Standard Catalog of World Coins 1801–2000. Krause Publications, USA.
Numista Coin Database – Netherlands Indies 1 Cent (1857–1945), www.numista.com.
Museum Bank Indonesia. Sejarah Uang di Indonesia: Dari Kolonial Hingga Kemerdekaan. Jakarta, 2022.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Dokumentasi Uang Hindia Belanda 1850–1945.
Penulis: Tim Redaksi Jejak Potensi

Posting Komentar
Posting Komentar