| Ilustrasi gambar tentangang warga Bojonegoro yang sedang merindukan hadirnya hujan di tengah sengatan suhu ekstrem |
Sudah berbulan-bulan langit di atas desa tak menyisakan searak awan pun. Sengatan matahari menjelang tengah hari serasa memanggang atap-atap seng rumah warga, membawa suhu merambat naik hingga menyentuh angka 37 derajat. Di pelataran rumah Pak Joyo, tanah lempung yang dulu subur kini pecah meretak, membentuk alur-alur kaku seperti telapak tangan seorang tua yang bekerja keras seumur hidup.
Sore itu, Pak Joyo duduk di balai-balai bambu di bawah pohon jati yang meranggas. Tangannya memegang sebuah kipas anyaman bambu yang terus mengipas perlahan, mencoba mengusir hawa gerah yang tak kunjung surut meski matahari mulai menggelincir ke barat. Di sampingnya, beberapa tetangga Kang Mul dan Mbah Sastro ikut bergabung, memandangi jalanan debu yang diterbangkan angin kering.
"Asal ada angin berhembus sedikit saja, rasanya seperti memegang dinding tungku yang menyala," celetuk Kang Mul sambil menyapu peluh di dahinya dengan kaus lusuh.
"Dulu, kalau sudah masuk bulan-bulan seperti ini, suara jangkrik dan embun pagi sudah riuh menyambut hujan pertama," timpal Mbah Sastro, matanya menerawang menembus cakrawala yang masih bersih memutih. "Sekarang, sumur di belakang rumah tinggal menyisakan lumpur dasar. Kita harus mengantre jerigen sejak subuh di tangki bantuan air."
Percakapan mereka adalah cerminan dari Rindu yang sama di setiap sudut desa. Rindu akan aroma petrikor—bau khas tanah kering yang tersiram titik-titik air hujan pertama. Rindu akan bunyi gemericik yang menimpa atap, membilas debu-debu tebal yang menempel di dedaunan dan jendela rumah.
Bagi warga seperti Pak Joyo, hujan bukan sekadar penyejuk udara yang menyengat. Hujan adalah nafas kehidupan bagi sawah-sawah mereka yang menguning sebelum waktunya, jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan bersama di langgar tiap sehabis magrib, dan ketenangan bagi anak-anak yang kini tak lagi bisa bebas bermain di luar karena terik yang menyengat kulit.
Saat senja makin temaram, Pak Joyo berdiri dan menengadahkan wajahnya ke atas. Angin sore berhembus tipis, membawa hawa hangat yang tersisa dari jalanan batu. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan dinginnya tetes air menetes di pipinya.
"Sabar," bisik Pak Joyo pelan pada dirinya sendiri dan pada tanah di bawah kakinya. "Bumi sedang menguji kita, tapi langit tak pernah lupa cara menyapa tanah yang rindu."
Malam pun jatuh di desa itu. Di bawah langit malam yang cerah bertabur bintang, warga kembali merebahkan badan, menyimpan harapan sederhana dalam doa mereka: agar esok hari, awan hitam akhirnya mau mampir dan membagikan rahmatnya.
Posting Komentar
Posting Komentar